Di hadapan waktu yang membentang, kita sering merasa kecut, kecil, mengerut, mengerdil. Diam-diam kita sadar akan segera tiada. Betapa pendek ruas yang kita miliki. Waktu akan terus melanjutkan perjalanannya, dan kita akan tinggal di titik ini, sepertinya tak kan sempat tercatat, tak kan pantas diingat.
Manusia selalu takluk di hadapan usia, dihantui sebuah rahasia, kapan tepi itu akhirnya akan tiba. Bahkan Fir’aun yang perkasa dan jumawa, membangun piramid-piramid karena kesadaran akan batas itu.
Tahun baru, ulang tahun, semua tanggal-tanggal penting dalam kalender, adalah bel yang berdentang makin keras, mengingatkan kematian semakin dekat, ujung jalan makin terlihat.
Tapi haruskah semurung itu menghadapi sebuah ulang tahun? Tidak juga. Nanti Pak Badut ikutan sedih, balon-balon enggan mengembang, kertas kado tak sudi direkat.
Hidup dengan kefanaannya, dengan batas-batasnya yang jelas dan semakin akrab itu, justru hidup yang amat berharga, pantas dirayakan setiap detiknya. Atau usia tidak saja akan menjadi sesuatu yang pendek, tapi juga sia-sia.
Yang lalu, memang tak akan kembali. Kita tak lagi mungkin memilih awal baru. Tapi kita toh masih bisa menentukan akhir terbaik, lembar terakhir dari sebuah sejarah kecil, yang akan bertahan lebih lama dari usia kita, minimal dalam ingatan beberapa orang, yang berkenan membukakan gerbang ingatannya, buat nama kita.
Barangkali, hidup memang hanya menunda kekalahan. Tetapi sebelum kekalahan itu tiba, kita harus selalu menang. Justru karena kehidupan ini tak mungkin kita pertahankan, semestinya tak ada yang perlu kita khawatirkan. Justru karena kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang tak mungkin kita kalahkan, kita tak perlu merasa kalah.
In the long run, we are all dead. But i will always run, till the final line I can reach. Happy birthday to myself. Semoga usiaku ditakdirkan panjang. Tapi yang lebih penting lagi, jadilah itu usia itu berguna buatku, dan syukur-syukur bagi satu dua orang lainnya.
Dan agunglah Engkau semata, wahai Pemberi dan Pencabut segala kehidupan. Terima kasih telah mengizinkanku sampai ke sini, sampai ke nanti.
http://nesia.wordpress.com/2009/05/08/manusia-usia-rahasia-sia-sia/




No comments:
Post a Comment