BAB I
PENDAHULUAN
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anestesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika angka ini sangat menurun.
Angka kematian ibu pada rumah-rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000.
Nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum di lakukan operasi. Menurut data dari negara-negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4-7%.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perawatan Pra Bedah
Penderita yang datang ke rumah sakit untuk bersalin dan mungkin memerlukan pertolongan obstetri operatif dapat dibagi :
a. Kelompok dengan keadaan umum masih baik
1) Pra-bedah lakukanlah evaluasi terakhir status obstetrik penderita dan janin
2) Lakukanlah pemeriksaan penunjang diagnosis yang diperlukan sesuai dengan keadaan penderita dan jenis operasi yang akan dilakukan :
- Pemeriksaan laboratorium : urin, darah dan sebagainya
- Pemeriksaan rontgenologik bila ada indikasi
- Pemeriksaan ultrasonografik bila ada indikasi
3) Konsultasi dengan disiplin atau dokter ahli lain terutama dengan dokter ahli anak bila memang diperlukan.
b. Kelompok dengan keadaan umum kurang baik
Lakukan seperti pada kelompok di atas disamping itu diperlukan perawatan khusus sesuai dengan keadaan kasus-kasus yang dijumpai.
1) Partus terlantar (partus lama atau partus kasep)
Semua penderita dengan partus terlantar diberikan perawatan pendahuluan sebagai berikut :
- Berikan infud cairan larutan garam fisiologis atau larutan glukosa 5-10% dalam jam pertama sebanyak 1 leter perjam.
- Injeksi intramuskuler kortison asetat : 200 mg
- Injeksi prokain penisilin intramuskuller sebanyak 1 sampai 1,2 juta satuan
- Injeksi instrumuskuler streptomisin 1 gr
- Istirahat selama 1 jam sambil melakukan observasi keadaan kemajuan.
2) Kasus-kasus perdarahan :
- Pemeriksaan homoglobin, golongan darah, cros-match dan penyediaan darah, komponen darah dan lain-lain.
- Pemberian infus cairan dan transfusi darah
3) Pre-eklamsi berat dan eklamsi :
Memerlukan perawatan khusus seperti telah diterangkan dalam buku I, bagian VII, topik 33.
Persiapan Pra Bedah
Persiapan pra-bedah dapat dibagi atas tiga :
1. Persiapan penderita
2. Persiapan alat-alat untuk operasi
3. Persiapan operator dan pembantu-pembantunya.
Persiapan Penderita :
1. Menerangkan kepada penderita dan keluarganya kenapa dilakukan operasi untuk melahirkan janin dan memberikan pengertian kekuatan mental kepada mereka menghadapi keadaan ini. Diterangkan pula bahwa untuk operasi ini diperlukan izin/persetujuan penderita dan keluarga.
2. Lakukan pengosongan kandung kencing. Pada operasi perabdominal dipasang keteter menetap (daurer catheter).
3. Pengosongan isi rektum. Pada plasenta previa tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan perdarahan
4. Mencukur rambut pubes daerah genitalia eksterna dan rambut daerah dinding perut pada operasi perabdominal.
5. Posisi tidur penderita yang dianjurkan adalah posisi lilotomi dan posisi tlenderenburg.
6. Di pasang infus cairan menggunakan kanula plastik G No. 16
7. Melakukan suci hama daerah operasi.
a. Daerah geneletia eksterna dan vagina dengan memakai larutan asam pikrin, larutan betadin, larutan savlon dan sebagainya.
b. Daerah dinding perut dengan larutan betadin, larutan jodium atau larutan savlon lalu dicuci lagi dengan larutan alkohol.
Persiapan Kamar dan alat-alat operasi
1. Diberitahukan kepada dokter dan paramedik yang bertugas jaga bahwa ada operasi, supaya mereka menyiapkan kamar operasi atau kamar bersalin serta alat-alat yang berkaitan dengan jenis operasi yang akan dilakukan. Begitu juga alat-alat dan obat-obat untuk anestesi serta lampu kamar operasi disiapkan dan diperiksa.
2. Alat-alat untuk operasi disuci-hamakan (apsetik) setelah itu disiapkan pada meja alat-ditutup atau dibungkus dengan kain yang seluruhnya dalam keadaan suci-hama siap pakai untuk operasi
3. Juga telah disiapkan alat-alat resusitasi untuk bayi yang akan dilahirkan
4. Pada kasus-kasus bayi risiko tinggi (high risk baby) hendaknya diminta bantuan kehadiran seseorang ahli kesehatan anak khusus dalam bidang neonati.
Persiapan Tim Operasi
Tim bedah ini sekurang-kurangnya terdiri dari :
- Operator (ahli kebidanan)
- Asisten operator (asisten ahli, dokter muda dan para medik)
- Paramedik penata alat-alat operasi.
- Ahli anestesi atau perawat anestesi.
Tim bedah ini bekerja dalam keadaan suci hama :
- Mensuci-hamakan tangan menurut Furbringer
- Memakai penutup kepala
- Memakai baju operasi dan jas operasi yang steril
- Memakai masker penutup mulut dan hidung, tutup kepala
- Memakai alas kaki kamar operasi
Persiapan Alat
Alat untuk vakum ekstraksi terdiri atas :
1. Sejenis mangkok dari logam yang agak mendatar dalam berbagai ukuran (diameter 30s/d60 mm) dengan lubang ditengah-tengahnya.
2. Pipa karet yang pada ujung satu dihubungkan dengan mangkok dan pada ujung yang lain dan suatu alat penarik dari logam
3. Rantai dari logam yang berhubungan dengan alat bundar dan datar. Alat tersebut dimasukkan ke dalam rongga mangkok sehingga dapat menutup lubangnya. Selanjutnya dimasukkan ke dalam pipa karet dan setelah ditarik kuat, dikaitkan kepala alat penarik.
4. Pipa karet pada ujung yang satu dihubungkan dengan alat penarik dan pada ujung yang lain dengan botol penampang cairan yang tersisip. Lendir, darah, air ketuban.
5. Manometer dan pompa tangan untuk mengisap udara yang berhubungan dengan botol penampung dan menyelenggarakan vakum antara mangkok dan kepala janin.
Persiapan Pasien
Wanita ditidurkan dalam letak litotomi, vulva dan sekitarnya dibersihkan dengan kapas sublimat atau kapas lisol dan kemudian dengan tinctura jadi 2% kandung kencing dan rektum harus kosong.
Dilakukan pemeriksaan dalam sekali lagi dengan teliti dengan perhatian khusus pada pembukaan, sifat serviks dan vagina, turunnya kepala janin dan posisinya anestesi blok pudendus, jika perlu dilakukan.
Perawatan pra, intra dan postopperatif pada seksio sesarea.
Rumah sakit harus memenuhi persyaratan bahwa fasilitas dan sumber daya manusia mampu melayani tindakan seksio ‘sesarea’ dalam waktu kurang dari 30 menit dari sejak diagnosis dibuat. Hal ini diperlukan misalnya pada gawat janin dan gawat ibu seperti pada persalinan kasus pernah seksio yang dapat mengalami keadaan darurat (2%).
Persiapan Kamar Bedah
Periksa dan pastikan bahwa :
5. Kamar bedah telah bersih – selalu harus dibersihkan segera setelah dipakai
6. Peralatan dan kain laken telah ada termasuk obat-obatan dan oksigen
7. Alat resusitasi ada dan berfungsi
8. Baju cukup tersedia untuk tim operasi
9. Kain/linen cukup
10. Kasa, sarung tangan dan instrument cukup
Persiapan Pasien
1. Jelaskan kepada pasien prosedur operasi kepada pasien, namun bila tak sadar jelaskan kepada keluarga
2. Isilah formulir ijin operasi *(informed consent)
3. Berilah dukungan moril agar pasien tidak takut menghadapi pembedahan
4. Lapangan operasi dipersiapkan dengan tindakan antiseptik kulit abdomen dibersihkan dengan bilasan air dan sabun untuk membersihkan lemak dan kotoran, termasuk umbilikus. Rambut pubis hanya digunting bila mengganggu lapangan operasi, jadi tidak perlu memangkas/mencukur semua rambut pubis/vulva.
5. Bila terdapat infeksi intrapartum dan ketuban pecah lama, vagina dibersihkan dengan cairan betadine.
6. Demikian pula komplikasi ibu dan kondisi janin merupakan pertimbangan jenis operasi dan pemberian cairan
7. Pemeriksaan rutin terhadap fisik dan khusus dilakukan untuk merencanakan secara cermat anestesi, lama pembedahan, kesulitan/komplikasi dan teknik pembedahan.
8. Pembedahan harus memeriksa sendiri serta meuliskan rencana pembedahan pada rekam medik
9. Pemeriksaan fisik umum meliputi : keadaan umum (kesadaran gizi), paru, jantung, abdomen (hati, limpa) dan anggota gerak. Catat juga tensi, nadi, nafas dan suhu, pada pemeriksaan obstetrik tentukan keadaan janin (letak, besar, tunggal/gemelli).
10. Perlu diketahui jenis operasi yang pernah dijalani, termasuk kesulitan/komplikasi (untuk meramalkan perlekatan dan kelainan organ, misalnya kanker).
11. Dari anamnesis perlu diketahui penyakit yang pernah diderita :
· Paru, asma, tuberkulosis
· Jantung, iskemi
· Hati, hepatitis
· Kelainasn pembukuan darah/penggunaan obat dan trombosis
· Diabetes mellitus
· Alergi terhadap obat
12. Laboratorium
· Ambillah sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium rutin ialah : Hb, Ht lekosid (hitung jenis), trombosit, golongan darah. Pada pembedahan berencana juga diambil darah untuk kadar gula puasa dan postprandial
· Kemudian ambil contoh urin untuk pemeriksaan rutin
13. Pemeriksaan khusus ditujukan pada kondisi
· Usia > 40 tahun : ECG
· Kelainan paru : foto thorak
· Kelainan ginjal/ureter/desakan tumor : ureum, kreatini, CCT
· Kelainan hepar : SGOT, SGPT, LDH
· Kelainan darah : PT, APTT, D-dimer
14. Pemeriksaan penunjang USG dilakukan atas keperluan penentuan lokasi patologi misalnya : letak plasenta untuk menentukan jenis uterus. Idealnya pasien harus puasa 6 jam pra operasi.
Pembedahan Akut
1. Dianjurkan untuk melakukan anestesi regional : spinal atau epidural. Pada keadaan mendesak anestesi lokal dapat dipertimbangkan; misalnya pada keadaan gawat ibu (edema paru, gagal ginjal) dan gawat janin.
2. Sebaiknya diberikan antasid (Na Sitrat 0,3%-30 ml atau magnesium trisilikat 300 mg) sebelum pembedahan, sebagai profilaksis bila terjadi aspirasi.
Benang
1. Benang yang dianjurkan untuk jahitan uterus ialah monofilamen atau catgut kromik no 1 benang yang sama dapat digunakan untuk fascia
2. Untuk subkutis/kulit dapat dipakai benang 3-0 (subkutukuler) bila tidak ada dapat digunakan benang sutra.
Rencana Pembedahan
1. Insisi abdomen harus direncanakan. Sebaiknya insisi pranentiel dilakukan pada semua pasien kecuali pada seksio darurat dengan anestesi lokal atau pada bekas perut abdomen. Demikian pula jenis insisi uterus yang dipilih ialah trasperitonealis profunda kecuali pada pretem <>




No comments:
Post a Comment