having fun

having fun
funika

25 April 2009

Remaja dan KB

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia antara 10-19 tahun. Secara biologik sebagian besar remaja sudah matang, tetapi secara sosial, mental dan emosional belum. Akibatnya dapat terjadi masalah-masalah remaja seperti kehamilan di luar nikah, abortus, dan ketergantungan obat. Jumlah remaja perempuan di Indonesia pada tahun 2000 adalah 21,1 juta jiwa atau sekitar 10% dari jumlah penduduk.
Faktor-faktor di dalam lingkungan keluarga berat juga mempengaruhi kemungkinan melahirkan pada usia dini, apabila ibu dari remaja itu sendiri atau kakak perempuannya pernah hamil pada usia remaja. Maka risiko kehamilan remaja meningkat. Untuk menghindari kehamilan yang tidak direncanakan kaum remaja harus memiliki akses pelayanan kontrasepsi dan kesehatan seksual.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Remaja
Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia antara 10-19 tahun. Secara biologik sebagian besar remaja sudah matang, tetapi secara sosial, mental dan emosional belum. Akibatnya dapat terjadi masalah-masalah remaja seperti kehamilan di luar nikah, abortus, dan ketergantungan obat.

B. Penyebab Kehamilan Remaja
Walaupun sekitar 30% putri besar kemungkinannya untuk aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun hanya 1% dari mereka akan hamil pada usia ini. Karena itu, harus ada faktor-faktor selain aktivitas seksual yang menentukan apakah seorang remaja putri yang aktif secara seksual akan hamil atau tidak. Kehamilan remaja berkaitan dengan keterbelakangan sosial, dengan angka tertinggi kehamilan remaja dijumpai di daerah-daerah yang terbelakang secara sosial.
Faktor-faktor di dalam lingkungan keluarga dekat juga mempengaruhi kemungkinan melahirkan pada usia dini. Apabila ibu dari remaja itu sendiri atau kakak perempuannya, pernah hamil pada usia remaja maka risiko kehamilan remaja meningkat. Sikap terhadap seksualitas di dalam keluarga dan di dalam masyarakat secara umum juga berperan penting apabila orang tua bersikap terbuka dan informatif mengenai seksualitas. Maka remaja lebih besar kemungkinannya menunda melakukan hubungan intim dan lebih kecil kemungkinannya mengalami kehamilan remaja.
Untuk mengindari kehamilan yang tidak direncanakan (dan juga IMS) kaum muda harus memiliki akses kelayanan kontrasepsi dan kesehatan seksual tentu saja tidak semua kehamilan remaja tidak direncanakan sebagian remaja memang berencana untuk hamil, mungkin mereka tidak melihat adanya alternatif di masa depan, misalnya pendidikan yang lebih tinggi atau karir yang menjanjikan.

C. Masalah-masalah
v Informasi mengenai masalah seksual dan kesehatan reproduksi bagi remaja tidak memadai.
v Tidak ada/sangat sedikit akses pelayanan bagi remaja yang bersifat youth friendly dan tidak menghakimi
v Masih kurangnya pengetahuan dan pengalaman petugas untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja.
v Remaja masih merupakan kelompok yang dimarginalkan untuk dapat pelayanan kesehatan reproduksi.
v Masyarakat cenderung menganggap aib remaja yang tidak mengikuti norma susila yang berlaku
v Terdapat peningkatan prevalensi remaja yang aktif menjalankan kegiatan seksual/berhubungan seks di luar nikah dengan akibat.


D. Strategi untuk Mengurangi Kehamilan Remaja
1. Mengurangi Kemiskinan
Angka kehamilan remaja paling tinggi terdapat di daerah-daerah yang keadaan sosioekonominya kurang. Strategi yang menurunkan kemiskinan dan memperbaiki prospek sosioekonomi keluarga muda ini besar kemungkinannya akan menurunkan angka kehamilan remaja.

2. Memperbaiki Penyediaan Kontrasepsi
Layanan yang menawarkan kontrasepsi sebaiknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan kaum muda disertai ekspansi lokal fasilitas-fasilitas yang ditujukan bagi mereka. Klinisk harus terletak, ditempat yang mudah di akses oleh kaum muda tanpa menimbulkan rasa malu dan harus dibuka pada saat-saat yang paling sesuai bagi mereka. Kontrasepsi Darudar (KD) harus mudah diperoleh dan para remaja harus diberitahu mengenai penggunaannya harus disediakan suatu layanan terpadu yang menawarkan layanan kesehatan umum dan seksual bagi kaum muda, dan layanan tersebut harus diberitahukan secara luas.

3. Mengincar Kelompok Beresiko Tinggi
Kelompok-kelompok tertentu kaum muda lebih besar kemungkinannya hamil usia remaja, sehingga mereka dapat dipilih untuk menjadi sasaran. Kelompok-kelompok ini mungkin mencakup remaja yang diasuh oleh negara. Remaja yang tidak memilih rumah, remaja yang tinggal di lingkungan yang sosioekonominya lemah, dan remaja yang mereka sendiri adalah anak dari orang tua remaja.
4. Meningkatkan Pendidikan
Pendidikan seks di sekolah berperan penting dalam menurunkan kehamilan remaja. Penentuan waktu pendidikan semacam ini sangatlah penting, dan perlu dimulai pada awal masa remaja. Program pendidikan seks lebih besr kemungkinan berhasil apabila terdapat pendekatan terpadu untuk sekolah dan layanan kesehatan.

E. Kontrasepsi untuk Remaja
Sebagian besar kaum muda akan aktif secara seksual pada masa-masa remaja mereka. Remaja yang aktif secara seksual juga berisiko terjangkit IMS. Terutama infeksi klamida, dan para penyedia layanan kontrasepsi harus mempertimbangkan hal ini saat memberikan saran.
Tidak ada satu pun metode kontrasepsi yang dapat memberi proteksi maksimum terhadap kehamilan yang tidak diinginkan dan IMS sekaligus. Dan mungkin diperlukan kombinasi metode. Tidak ada satupun metode yang cocok untuk semua remaja dan dengan demikian anjuran dan pilihan kontrasepsi seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing remaja.

1. Kontrasepsi Otol Kombinasi
Kontrasepsi Otol Kombinasi (KOK) adalah bentuk kontrsepsi yang sangat handal, dan metode ini sering menjadi bilihan bagi wanita muda dengan proteksi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan merupakank hal yang sangat penting. Namun, efektifitas metode ini bergantung pada kemampuan wanita untuk ingat minum pil secara teratur dan benar serta menyadari situasi-situasi yang efektivitas kontrasepsinya mungkin hilang.

2. Kondom
Kondom pria merupakan yang paling penting pada praktik seks yang aman, dan para remaja. Walaupun sedang menggunakan metode kontrasepsi yang lain misalnya KOK, harus didorong untuk juga menggunakan (pendekatan “double dutc”), kondom memiliki keunggulan yaitu mudah diperoleh di toko-toko obat di pasar swalayan, dan dari mesin kondom. Kondom memiliki angka kegagalan yang lebih tinggi apabila digunakan oleh remaja. Mungkin karena kurangnya pengalaman pakai.

3. Metode Barier lainnya
Diafragma dan topi (cap) serviks sangat jarang digunakan oleh remaja. Bagi kelompok pemakai usia remaja metode-metode ini kurang memberikan perlindungan yang memadai terhadap kehamilan atau IMS.

4. Pil Progestogen
Pil progestogen (PP) memiliki angka kegagalan yang lebih tinggi pada pemakai remaja di bandingkan pada pemakai yang lebih tua. Memerlukan tingkat kedisiplinan yang tinggi dalam meminum pil secara teratur. Dalam hal ini remaja dianjurkan menggunakan kontrasepsi tambahan berupa metode barier.

BAB III
KESIMPULAN

Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia 10-19 tahun. Walaupun sekitar 30% putri besar kemungkinannya untuk aktif secara seksual sebelum usia 16 tahun hanya 1% dari mereka akan hamil pada usia dini. Faktor-faktor di dalam lingkungan keluarga dekat juga mempengaruhi kemungkinan melahirkan pada usia dini. Untuk menghindari kehamilan yang tidak direncanakan (dengan juga IMS) kaum muda harus memiliki akses kelayanan kontrasepsi dan kesehatan seksual.
Angka kehamilan remaja paling tinggi terdapat di daerah-daerah layana yang menawarkan kontrasepsi sebaiknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan kaum muda. Kelompok tertentu kaum muda lebih besar dapat dipilih untuk menjadi sasaran. Sebagian besar kaum muda akan aktif secara seksual pada masa remaja.
Dalam hal ini sebaiknya remaja dianjurkan menggunakan kontrasepsi tambahan berupa metode barier.

No comments:

Post a Comment

kamera digital

Clik Iklan Dapet Uang...!! Buruan....!!!!!